/* ----------------------------------------------------- Blogger Template Style Booted from wordpress to blogspot by Gecko Name: Death Designer: URL: http://www.geckoandfly.com Date: 27 April 2007 ------------------------------------------------------ */ korupsi MAKI

Minggu, Desember 21, 2008

Nah Ini Dia !!! Wakil Rakyat Penerima Aliran Dana BI


Berikut ini adalah nama-nama anggota Komisi IX (Komisi Perbankan dan Keuangan) DPR periode 1999-2004 yang menerima aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) seperti diungkap tersangka Hamka Yamdhu (anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin (28/7).
Uang diserahkan di ruangan anggota DPR masing-masing, saat sedang ada rapat, istirahat, dan lain-lain. Terkadang, para anggota itu yang menemui Hamka Yamdhu di ruangannya. Namun, Hamka tidak tahu apakah uang itu terkait masalah BLBI atau UU.

Fraksi PDIP:
Untuk 13 anggota Fraksi uang diserahkan empat tahap dengan total Rp 3,55 miliar.
1. Dodhie Makmun Murod (Rp 300 juta)
2. Max Moein
3. Poltak Sitorus,
4. Aberson Marle Sihaloho
5. Tjiandra Widjaja
6. Zulvan Lindan
7. Wiiliam Tutuarima
8. Sutanto Pranoto
9. Daniel Setiawan

Fraksi Partai Golkar:
1. TM Nurlif Rp 250 juta
2. Baharudin Aritonang (sekarang anggota BPK) Rp250 juta,
3. Anthony Zeidra Abidin. Hamka tidak tahu besar uang yang diterima Anthony karena
dia mengambil sendiri setelah uang diserahkan,
4. Ahmad Hafiz Zawawi Rp250 juta,
5. Asep Ruchimat Sudjana Rp250 juta,
6. Boby Suhardirman Rp250 juta, |
7. Azhar Muchlis Rp250 juta,
8. Abdulah Zaini (Sekarang wakil ketua BPK) Rp250 juta,
9. Martin Serandesi Rp250 juta,
10. Hamka Yamdhu Rp500 juta,
11. Hengky Baramuli Rp250 juta,
12. Reza Kamarulah Rp250 juta.
13. Paskah Suzeta kurang lebih Rp1 miliar yang menyerahkansaya sendiri secara
bertahap. Saya serahkan empat kali.

Fraksi PPP:
1.Daniel Tandjung (Rp500 juta)
2.Sofyan Usman
3.Habil Marati

Fraksi PKB:
1. Amru Al Mustaqim
2. Ali As'ad,
3. Aris Azhari Siagian
4. Am Muchtar Nurjaya
5. Amru Almutaqin
(masing-masing mendapat Rp250 juta)

Fraksi Reformasi:
Rizal Djalil (penerima dana dan masih ada empat anggota FRaksi Reformasi lainnya)

TNI Polri:
1.Mayjen D Yusuf
Fraksi KKI
1.Hamid Mappa
2.FX Soemitra

Fraksi PBB
1.MS Kaban (diserahkan langsung Hamka Yamdhu Rp300 juta)

Fraksi PDU
1.Abdullah Alwahdi Rp250 juta

Sumber: inilah.com Senin, 28 Juli 2008

Kader PDIP Jago Mangkir?



Salah satu partai politik yang enggan mengumumkan nama-nama kadernya di DPR yang sering bolos di berbagai rapat adalah PDI Perjuangan. Dengan sikap ini, masyarakat bisa beranggapan bahwa kader-kader PDIP memang jago mangkir.

"Barangkali jumlah anggota yang bolos banyak," kata pengamat politik Paramadina Bima Arya Sugiarto saat dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Jumat (19/12).
Menurut Bima, pengumuman nama-nama anggota DPR yang malas bukan merupakan suatu hal yang berlebihan. Konstituen seharusnya bisa mengukur kinerja dari para wakil rakyat yang sudah dipilihnya.

"Seharusnya kita mempunyai metode penghitungan bagaimana partisipasi anggota DPR di sebuah rapat," ujarnya.

Usulan pengumuman ini, Bima menilai, sudah terlambat. Kenapa baru sekarang berencana dipublikasikan nama-nama anggota yang jarang hadir di berbagai rapat. Hal ini terkesan adanya nuansa pencitraan untuk Pemilu 2009.
"Kalau dulu banyak anggota yang datang ke sidang kemudian keluar. Sekarang banyak yang tidak hadir malahan pergi ke hotel atau belanja. Usulan ini jangan setengah-tengah," sarannya.

Sumber: inilah.com

Label: , ,


Kamis, Desember 18, 2008

Berbohong Dengan Statistik ala Iklan PDIP – Mega


“Mana Kita Tahan??? Sembako Makin Mahal Hidup Makin Sulit”. Itulah tag line besar iklan politik PDI Perjuangan dan Megawati yang beberapa minggu ini mewarnai beragam media massa lokal dan nasional. Iklan politik tersebut secara gamblang mengklaim bahwa situasi dan kondisi perekonomian yang dihadapi masyarakat di jaman Megawati jauh lebih baik dari hari ini. Sebagai penguat, iklan tersebut mencomot data yang bersumber dari laporan Statistik Perdagangan No 08.05.005 Januari 2006 Tabel 5 halaman 5 Departemen Perdagangan RI yang berisi perbandingan harga enam bahan makanan pada tahun 2004 –dimana Megawati masih menjabat presiden- dengan tahun 2007 dan 2008 sebagai representasi periode paska pemerintahan Megawati.

Bila kita perhatikan lebih lanjut, tabel yang ditampilkan justru menunjukkan ketidakpahaman PDIP dan Megawati akan data-data statistik. Terlihat bahwa Megawati dan PDIP hanya sekedar mencomot data-data dalam Statistik Perdagangan tersebut tanpa melakukan analisa lebih lanjut sesuai dengan kaidah ekonomi. Harga-harga dalam statistik tersebut adalah merupakan harga nominal atau harga yang masih dipengaruhi oleh inflasi bukan harga riil, artinya jika pada kedua data yang dibandingkan pengaruh inflasinya dihilangkan maka akan terlihat kedua harga-harga tersebut tidak akan jauh berbeda satu sama lain, bahkan terdapat harga yang lebih murah pada zaman sekarang daripada zaman Megawati. Secara matematis, untuk mendapatkan harga riil (harga yang tidak dipengaruhi inflasi) adalah dengan cara mengalikan Harga Produk saat itu dengan Basis Indeks Harga Konsumen dibagi dengan Indeks Harga Konsumen saat itu. [real price=current price of product *(base consumer price indeks/current consumer price indeks)]

Sebagai ilustrasi, mari kita bandingkan harga beras yang dicantumkan dalam iklan, yaitu Rp 2.795 (2004) dan Rp 5.071 (2007). Dengan menggunakan rumus matematis diatas dan base consumer price indeks tahun 2003, kita akan dapatkan bahwa harga beras pada tahun 2004 sebenarnya adalah Rp 2.627 dan pada tahun 2007 sebesar Rp 3.331. Harga minyak goreng curah dalam iklan Rp 5.380 (2004) dan Rp 8,126 (2007), sementara setelah kaidah ekonomi diatas dijalankan harga minyak goreng curah adalah Rp 5.057 (2004) menjadi Rp 5.337 (2007). Untuk kedua bahan makanan tersebut memang terjadi kenaikan masing-masing sebesar Rp 703 dan Rp 280. Sementara empat bahan pokok lainnya yaitu telur ayam ras, daging sapi, daging ayam boiler dan daging ayam kampung yang diklaim mengalami kenaikan justeru dengan kaidah ekonomi diatas menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Secara berurut penurunan harga-harga tersebut adalah: telur ayam ras dari Rp 7.868 (2004) menjadi Rp 6.977 (2007), daging sapi dari Rp30.877 (2004) menjadi Rp 16.817 (2007), daging ayam boiler dari Rp 12.682 (2004) menjadi Rp 5.596 (2007) dan daging ayam kampung dari Rp 21.973 (2004) menjadi Rp 10.109 (2007). Dengan demikian dari enam bahan makanan yang tercantum dalam iklan, empat diantaranya justru mengalami penurunan yang signifikan.

Label: ,


Add to Technorati Favorites

© 2006 MAKI | Blogger Templates by Gecko & Fly.
No part of the content or the blog may be reproduced without permission.
Learn how to make money online.